Mengintip sekolah Montessori

Sebenarnya kami tidak terlalu buru buru mencari sekolah SD untuk naura, Karna naura masih punya 1-2th di TK, awalnya kami juga pikir sekolah SD disini standarnya pasti sama bagus. tapi ternyata tidak semua kualitas sekolah negri itu bagus. sistem sekolah di Jerman bisa  berbeda beda tergantung propinsi karna masing masing punya otoritas  sendiri,.misalnya di Berlin usia wajib sekolah antara 5-6th, berbeda dengan di hamburg yang antara 6-7th.
Continue reading

Aturan dan Kompromi ?

Baru baru ini, ketika saya jemput dari sekolahnya, Naura punya masalah sedikit dengan gurunya. Naura tidak mau menepati aturan bahwa sudah waktu nya pulang (karna dia sudah anak terakhir yang dijemput), dan gurunya sudah merapikan Pensil warna semua ke atas lemari dan melarang naura menyelesaikan gambarnya apapun juga alasannya. sebagai anak yang strong-willed, memang tidak mudah buat naura untuk menerima suatu aturan. disitu terlihat adu argumen antara naura dan guru, dia bilang ‘gak fair’, bla bla bla….

Alhasil sampai dirumah, saya dan suami ajak bicara ada apa sebenarnya. ketika ditanya soal itu, Naura cerita panjang lebar bahwa dia hanya ingin pake pensil warna kuning untuk menulis namanya di kertas. suatu hal yang menurut kami hanya memakan waktu beberapa detik dan tidak terlalu prinsipil. tapi perbedaan cara tentu terjadi di mana mana, di sekolah antara guru dan anak, antar orangtua, bahkan antar suami dan istri. Pelajaran buat kami sebagai orang tua untuk mengulang kembali bagaimana kami menerapkan aturan, dan tentunya juga bagi guru untuk lebih mengenali sifat dan kebiasaan tiap anak dan menggunakan alternatif solusi.

Aturan merupakan bagian penting dari anak, itu hal yang disepakati. kehidupan mereka penuh dengan segala aturan  mulai dari jam tidur, jam makan, apa yang boleh dan tidak boleh dimakan, apa yang boleh dimainkan apa yang tidak, sampai besar : jam berapa boleh nonton, berapa lama, apa yang boleh ditonton dst.

Tapi aturan apa saja yang perlu dipatuhi tanpa kompromi, dan aturan apa yang bisa diajak berkompromi ? Berkompromi dengan anak bukan berarti jadi orangtua yang lemah, atau permissive. seringkali kita dengar , ‘kalau diturutin sekali, mereka akan mengambil kesempatan seperti itu lagi‘. ya ya memang benar, aturan dibikin untuk dipatuhi bukan untuk didiskusikan. tapi di sisi lain, kita juga ingin membesarkan anak anak yang bisa bernegosiasi dengan lingkungan sekitarnya, bukan menjadi pribadi saklek tanpa menggunakan pertimbangan dan pengertian. kemampuan bernegosiasi dan berkompromi untuk menghasilkan win-win solution , bukan menjadi orang yang penurut no matter what!

Mau beralih ke positive-parenting ini banyak sekali kendalanya, mulai dari masalah internal diri kita sendiri seperti : memutus lingkaran parenting yang menggunakan hukuman, berlatih komunikasi yang efektif, sabar, dan empati. belum lagi ditambah lingkungan sosial seperti pandangan orang yang menganggap parenting seperti ini sebagai cara yang tidak efektif, lunak, permisif, dan ga punya otoritas.

Back to the topic, Soal aturan. Aturan apa aja dirumah yang menurut kita hal hal prinsipil? hal hal begini sebaiknya didiskusikan bareng suami dan kita nya juga menjalankan. misalnya :  Waktu Sholat, Waktu mengaji, waktu Tidur, tidak boleh menyakiti orang lain, tidak boleh berkata yang tidak baik dst. Setiap keluarga pastinya punya aturan dan prinsip masing masing ya.

Semakin lama, aturan pun berkembang sesuai kondisi. :   ga boleh pake baju ini ke sekolah, ga boleh pakai sepatu itu ke sekolah, ga boleh nonton ini dan itu, serta jam main diluar dibatasi.

Diantara sekian banyak aturan, kita jadi berfikir lagi pertauran apa yang prinsipil dan peraturan apa yang bisa didiskusikan dan dikompromikan?

seperti anak saya yang kedua, maunya pakai rook terus, rok nya harus yang mekarr mempesona bak Princess, karna punya rok begitu cuma 1 ya dipake lah tiap hari itu itu terus, sampe kotor juga dipake, memaksakan kehendaknya  juga jadi perlawanan yang sengit. akhirnya kita jadi memikirkan kembali, seberapa penting si aturan itu ? apakah menyalahi prinsip agama atau norma sosial ? :p rasa nya ga ada. biarlah sekali sekali anak juga merasakan bahwa mereka bisa memilih sendiri sesuai selera, itu juga melatih mereka untuk percaya diri. sampai di sekolah , saya bilang : ‘coba adiba tunjukin ke guru ,adiba pake baju apa‘, dengan girangnya ,dia langsung bangun tuk kasih tau ke gurunya, membuat hari nya di sekolah lebih bahagia, hanya gara gara rok! ,

di lain waktu, pilihannya bisa lebih ekstrim walau dibujuk bujuk tetap maunya begitu, baju daleman jadi baju , Sampai di sekolah, ga ada guru yang komentar malah saya aja yang mulai komentar ke guru, gurunya bilang : ya adiba kan mau jadi mode setter. 😀 . tapi lain waktu dirumah dia maksa pakai celana dalem diluar celana panjang, langsung saya wanti wanti : yang ini ga mungkin dipakai ke sekolaah yaaa…..wkwkw.

Naura harusnya sudah tidur jam 8.30 ,a rtinya sudah mati lampu. tapi dia maksa mau baca buku 1 lagi setelah dibacain 3 buku. kalau menurut aturan, ya harusnya uda selesai dan tidur, tapi kita memikirkan kembali, apa sekali sekali membacakan buku lebih akan merugikan dan menghancurkan aturan yang sudah ada? akan membuat dia jadi pemaksa? sekarang sekarang ini kalau melihat asiknya anak anak masih bermain, kita bisa sedikit melonggarkan waktu sampai 15 menit.

Toh di kebanyakan hari, kita terus pegang aturan baku nya.

Hal yang mirip juga terjadi kalau mereka skip makan malam, selalunya kita akan bilang ga ada lagi makan malam setelah ini, waktu tidur tidak boleh ada rengekan minta makan. tapiiii ada waktu ketika mereka merengeeeek menyayat hati bilang lapar, awalnya si teguh nope ga ada makan sama sekali., tapi di lain waktu, jadi menimbang nimbang apa ada cara lain agar mereka bisa mengerti ? akhirnya, saya memberikan makan dengan catatan ‘tidak boleh roti coklat’, dan sambil makan saya ajak bicaara kalau hal itu tidak bisa terjadi setiap hari, dan mreka harus perhatikan waktu makan. Hamdulillah kita tidak mengalami hal itu setiap hari.  ah kalau diinget inget kita yang uda gede gini aja juga suka bangun tengah malem ngemil mie instan kan ?

Untuk anak anak strong-willed : kompromi, win-win solution, memiliki otoritas  adalah hal yang penting buat mereka. mereka tidak mudah diperintah sana sini karna merasa integritas nya dipertanyakan, mereka merasa mereka juga punya pilihan dan otoritas.  🙂 hanya memang kita sebagai orangtua sulit menerima kalau anak tidak mau diperintah.

Konsekuensi yang efektif menurut Positive Parenting adalah Natural Consequence. yaitu konsekuensi yang berdasarkan pengertian dan sesuai umur. Misalnya kalau skip makan, mereka akan tau akan lapar. tapi tidak semua aturan ada konsekuensi natural nya kan? seperti kalau tidak menaruh jaket dan sepatu di tempatnya, mereka tidak merasa ada masalah. Menyuruh mereka langsung menaruh sepatu ditempatnya dan menggantung jaket di gantungan jadi suatu permintaan yang konstan.Akhirnya saya mulai mengurangi tekanan dengan sedikit ‘pengertian’, dan berkompromi dengan cara : ‘Naura masih ada tugas yang belum diselesaikan ya, ga enak lihatnya berantakan. mama tunggu sampai naura rapihkan sepatu dan jaket, baru mama bisa siapin snack atau nonton sore’. walau awalnya lamaa sekali sampai mereka mau menempatkan barang2nya ditempatnya, tapi sekarang sudah mulai terbiasa. Dibanding jika memaksakan saat itu juga dilaksanakan, hasilnya bisa dipastikan teriakan dan berontak. Suatu hari naura meninggalkan sepatu dan jaketnya sambil buru buru ke kemar mandi, lalu dia bilang : ‘mama, gapapa ya aku belum taro jaket dan sepatunya, karna aku kebelet pipis’..  🙂

Di hari ketika ia memiliki sedikit perbedaan dengan gurunya itu, dia menjelaskan suatu yang tidak pernah kita fikirkan sebelumnya, dia bilang bahwa aturan itu seperti ‘suatu Garis’. di ujung garis yang satu yaitu ‘sangat tidak boleh‘, dan ujung satunya ‘sangat boleh‘. menurut pengertian naura, selama masih dalam garis berarti boleh. dan batasan garis itu di menurutnya dibatasi oleh batasan : ‘tidak menyakiti orang lain‘ dan ‘tidak merusak barang‘. hmm…penjelasan naura ini membuat kita berfikir terus tentang menerapkan aturan, karna dia sering bertanya : ‘kenapa sih ga boleh terus, itu kan ga nyakitin orang, ga ngerusak barang dst ‘.  Pertanyaan yang terus membuat kita berfikir dan mencari Solusi dalam menerapkan aturan yang efektif, bukan cuma aturan kaku yang membuat anak harus patuh ‘no matter what’, karna anak tidak suka diperintah, mereka lebih suka diajak, diberikan pilihan.  Mengancam juga cara yang pernah kita ambil dan hasilnya? mereka balik mengancam. they are great imitators. 😦

Akhirnya saya lebih suka menggunakan jam ( jarum menit ) atau timer, Ayahnya sering menggunakan kertas dan ditulis/digambar perjanjiannya, dan perrjanjian itu harus disepakati ( ditandai dengan bersalaman). Dengan cara ini, mereka belajar menepati janji mereka sendiri dan menerima konsekuensi.

Walau terus terang, masih mengevaluasi cara cara menerapkan aturan dan konsekuensi, tapi berkompromi dengan Naura adalah suatu hal yang kita lihat sebagai contoh bagi Naura untuk berkompromi dengan adiknya atau teman temannya. sehingga bisa menjadi pribadi yang pengertian , dan mempertimbangkan situasi dan kondisi.

Orang bilang, parenting itu seperti berseni. Berkompromi salah satunya, kapan bisa berkompromi, aturan apa yang bisa dikompromikan, seberapa longgar, serta bagaimana kondisi anak.

Berikut ini Langkah-langkah untuk membuat aturan (aha parenting)  :

  1. Menerapkan batasan yang benar benar perlu ( bukan soal baju garis garis dibanding baju polkadot )
  2.  Menentukan aturan mana yang fix, mana yg negotiable.
  3. membuat jadwal rutinitas yang dilakukan setiap hari : seperti jam tidur, jam sikat gigi, jam bangun tidur (waktu antara jam sekian jam sekian )
  4. memberikan pilihan jika memungkinkan. : ‘mau makan pake ayam, atau telur ? ‘
  5. Jika memungkinkan , berikan waktu hingga ia siap.  ooh ini contoh yang menaruh jaket tadi, anak anak tidak suka diburu buru. selalu sediakan extra time. dirumah kami, hal itu kadang berarti bermain sandiwara sebelum pergi kesekolah.
  6. Berikan kesempatan menjadi ‘in-charge’ : misalnya di weekend, mereka bisa pilih mau makan di resto mana.
  7. Its Ok ketika mereka menangis atau Tantrum : kadang mereka tidak mau mengikuti aturan atau nurut, karna ada hal hal yang tidak bisa kita tebak. mungkin bukan hanya lapar, atau letih. tapi pengalaman di sekolah yang mereka tidak bisa sampaikan seperti : penolakan dari teman, kesepian, merasa tidak mampu mengerjakan sesuatu, dsb.- hal itu bisa menyebabkan mood mereka jadi buruk dan menolak melakukan apapun yang kita minta.
  8. Gunakan disiplin yang sesuai umur : bukan timeouts! tapi pengalihan, cerita dan pengertian aturan yang mudah dimengerti anak.
  9. tidak baper, alias tidak mengambil hati apa yang diperbuat anak. duh seringnya ini mah susah, kita selalu menganggap mereka tidak sopan, tidak menghormati orang lain dst.
  10. Hindari ‘Power Struggle‘ : Kita tidak perlu ikut berargumen atau membuktikan bahwa kita benar ( which is i know , hard ) , Anak anak juga sedang mencoba menguji kemampuan ‘assertive’ mereka, dengan kekuatannya. menurut artikel di website ini, Tantrum adalah hasil karna anak anak merasa tidak berdaya. anak anak yang merasa memiliki kontrol di beberapa hal di kehidupannya, lebih sedikit mengalami Tantrum.

 

 

s

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dongeng Bruder Grimm

Cinderella, Snowwhite, Princess and the frog , Rapunzel, Red riding hood, Hansel dan Gretel bukanlah berasal dari Hollywood atau Waltdisney.  Jauh sebelum dongeng dongeng ini populer dibuku cerita anak atau dihidupkan melalui animasi, Pada tahuh 1800-an, dongeng ini sudah menjadi dongeng turun temurun di  Eropa. Yang menulisnya adalah 2 orang bersaudara asal Jerman yaitu : Jacob Grimm dan Wilhelm Grimm, yang akhirnya dikenal dengan The Bruder Grimm ( The Brothers Grimm) . Namun belakangan diketahui bahwa The Borthers Grimm hanya menggubah cerita dongeng yang sudah ada dari turun temurun, dengan memberikan sentuhan bahasa Jerman yang tinggi (hochdeustch), dari situlah mereka pun akhirnya menjadi dosen Germanistik di Göttingen.

The Brothers Grimm besar di Hanau, sebuah kota di belahan selatan Jerman. Setelah ayahnya meninggal, mereka kuliah di Kassel di Jurusan Hukum, namun pada masa studinya ini, mereka tertarik dengan literatur, khususnya dengan aliran Romantik seperti Goethe. Pada saat itu, trend cerita dongeng adalah dari Scotland dan England, namun The Bruder Grimms melebarkan ke area Skandinavia, Finland, sampai ke Serbia.

Pada awal 1812 volume pertama untuk edisi pertama  Grimm diterbitkan. Kumpulan ini terdiri dari 86 cerita. Namun edisi pertama ini banyak dikritik karna tidak layak bagi anak anak. Misalnya saja dalam cerita Cinderella, saudara tiri Cinderella diceritakan memotong jari kakinya agar muat di Sepatu kaca, lalu Rapunzel Hamil akibat perbuatannya dengan si Pangeran. dan banyak lagi cerita yang mengandung kekerasan dan sex. untungnya cerita cerita itu telah direvisi beberapa kali sampai mengalami beberapa versi. total cerita yang dihasilkan dari edisi  pertama hingga edisi ke-7, sampai  211 cerita .

Pada tahun 1825, mereka menerbitkan ‘Kleine aufgabe’  atau Small edition berisi 50 cerita dongeng yang dibuat untuk pembaca anak anak. edisi ini  mengalami 10 kali revisi antara tahun 1825-1858 .

20161130_133720

 

 

 

 

 

 

Awalnya saya juga merasa aneh ya, cerita cerita dongeng barat ini kenapa sering sekali menyeramkan buat anak anak, ada serigala makan orang atau kambing (seperti Red Riding Hood, serigala dan 7 anak domba ) dan sering

20161125_171645

Buku The Bruder Grimm’ disalahsatu perpustakaan anak

menampilkan sosok nenek sihir 🙂 , Tapi begitulah ciri ciri dongeng Bruder Grimm, dan begitulah tipical dongeng rakyat di eropa . Orang dewasa seperti kita bertugas menerangkan maksud dari cerita yang dibacakan dan jangan sampai mengeneralisasi semua ibu tiri itu jahat atau srigala itu makan orang 🙂 Anak anak saya sih sering sekali main sandiwara dari cerita ‘serigala dan 7 anak domba’, seringkali minta abah mamanya jadi serigala sambil teriak seru atau ketawa geli kalo uda kena tangkep. heheh… buku buku seperti ini biasa dibacakan di TK dan di Sekolah sekolah di Jerman.  buku buku Grimms juga dijadikan buku rujukan linguistik untuk bidang studi Germanistik.

 

Selamat Mendongeng, .. 🙂

 

 

Ketika Anak Marah

Setelah melewati usia tantrum, kita fikir anak sudah bisa melewati masa masa impulsiv dan meledak2nya. tapi setiap anak berbeda dan memiliki karakternya. ada yang bisa menerima kata ‘tidak’ dengan santai, ada yang ‘tidak begitu saja’. dan reaksinya bisa teriak, melempar, memukul dst. agressive dan explosive
pertama tama, mari kita singkirkan dulu pikiran bahwa anak itu manja, tidak disiplin, apalagi nakal dst. otak anak anak kan tidak seperti otak orang dewasa, mereka masih berkembang dalam segala hal termasuk mengontrol emosinya.

Marah seperti dikutip dari artikel  ini adalah reaksi sekunder, yang artinya ada emosi lain yang berperan utama yang menyebabkan dia marah. Marah juga disebut sebagai ’emosi bertarung’, ketika emosi ini muncul, maka sinyal di sistem saraf akan memicu ritme jantung, mengirimkan darah ke otot sehingga mereka menjadi lebih kuat dan meningkatkan pernafasan dan membutuhkan lebih banyak oksigen.  ini penjelasan secara biologi nya.

Penyebab yang memicu anak anak marah bisa berbagai hal :

  1.  Ancaman atas kepercayaan diri mereka , misalnya :

    Perasaan iri terhadap saudara (kakak/adik)
    Peraturan atau sikap yang tidak adil/ tidak konsisten
    Koreksi ditempat umum yang bisa menyebabkan rasa malu dst
    Perintah dan penawaran bantuan yang tidak diperlukan
    melihat ketidak adilan terhadap orang lain
    kehilangan rasa otonomi terhadap diri sendiri
    Kurangnya empati
    Kurangnya rasa dimengerti ( missunderstood)

  2. Penyebab secara Biologi : lapar, gula darah yang rendah, capek, dan sakit.
  3. Stress ( sakit, masalah keluarga, pindah sekolah, babysitter ganti dst )
  4. Kesedihan ( bisa karna masalah pribadi atau kehilangan seseorang )

Frustrasi ( masalah komunikasi, kurang pengetahuan, perfectionist dan tidak bisa menerima kesalahan )

Kalau kita sudah bisa  mengidentifikasi dan menyelesaikan problem utama nya, maka selesai lah masalah. Langkah mengidentifikasi :

Cek kesehatan,

Anak kurang tidur, atau tertekan dengan tuntutan untuk sesuatu.

Ketika anak meledak, tetap tenang. 

Mudah untuk terpancing dalam situasi seperti ini,  tapi tetap tenang membantu kemarahan mereka mereda. sebaliknya, komunikasi dengan tenang, dan kasih sayang. jika anak membiarkan kita mengelus, maka elus dan peluklah. irit irit dalam berkata kata.  dan berikan mereka space untuk mengeluarkan emosinya.

Bahas ketika anak tenang

membahas dan menjelaskan ketika anak sedang marah tidak ada gunanya, mereka hanya akan tambah marah. jadinya tidak akan produktiv. Ketika tenang, kita bisa berdiskusi dan bertanya dengan baik apa yang membuat mereka begitu marah, dan dengarkan untuk tujuan mengerti dari perspektif anak. ( bukan perspektif kita ‘gitu aja koq marah’)
misalnya kasus di saya semalam, dua kakak adik ini sedang bermain main kelinci pakai celana yang dipakai di kepala, tapi si adik ngerasa ga perlu pakai ini. si kakak yang merasa autonomy nya terancam jadi merasa ga asik main kalau ga sama-sama pakai konstum yang sama. karna merasa kesal, teriak ke adiknya, memaksa dan hampir memukul. situasi yang sering muncul diantara kakak dan adik, atau ketika kita melarang sesuatu.

Berperan sebagai role-model.

Seringkali kita marah dan meledak kepada anak untuk membuat mereka mendengar, dan mereka bisa jadi mengimitasi perilaku kita. i know, ini kesannya orangtua jadi tumpu kesalahan dari perilaku anak dan orangtua tidak boleh kehilangan kontrol, padahal kan orangtua juga manusiaa…bisa salah, bisa snap. like me, tapi semua ini butuh latihan step-by-step, perubahan paradigma kita tentang perilaku anak, latihan berfikir positif, koneksi dan quality time dengan anak, Istirahat yang cukup juga  sangat penting buat para ibu, sampai merencanakan solusi ketika sedang marah ( mengunci diri di kamar, istighfar,berdiam diri menunjukkan bahwa kita marah, tarik nafas, wudhu dst )

 

Problem-solving

Tenang saja tidak cukup, harus ada problem solving agar mereka mampu menyelesaikan masalahnya. Menanyakan ‘Menurut kamu , apa solusi nya supaya tiap anak bisa bermain dengan senang dan mendapatkan gilirannya ?’

bisa menawarkan giliran, bergantian ide main, dengan suit tangan atau pergantian hari dan jam. Ini bisa saya aplikasikan ketika 2 anak saya berebutan menekan tombol lift. anak mana si yang ga semangat soal pencet pencet tombol. tiap hari (duluu) salah satu perjuangan pergi sekolah adalah rebutan pencet tombol lift, tapi suatu hari ide itu muncul dari si kakak ‘adiba pencet tombol yang dalam , aku pencet tombol yang luar yah‘ , aah kalau gini kan jadi kalem mamahnya, tapi masalah bisa jadi terekskalasi ketika 2 anak mau pencet tombol luar pada saat yang sama. kadang ini sih ga segampang itu selesainya, kita perlu masuk dan menawarkan pilihan, adiba pencet tombol luar kalau pulang kerumah, kakak ketika berangkat. Alhamdulillah dua duanya setuju. kalau ga setuju, coba tanya anak anaknya gimana caranya supaya 2-2 nya bisa mencet bersamaan.

Mereka memiliki kontrol terhadap rasa marah

Kita perlu mengajarkan cara mengontrol marah, mengajarkan relaksasi seperti tarik buang nafas, menghitung mundur, berteriak di bantal, mendengarkan suara ngaji atau instrumen yang menenangkan atau memberikan pojok kedamaian dengan mainan mainan seperti botol sensorik.  lihat ide-ide di Pinterst menarik juga soal mengontrol kemarahan.

 

Menerangkan tentang Hitam-putih

Anak anak masih memandang dunia sebagai hitam-putih, baik – jahat, salah – benar, tidak pernah – selalu. tugas kita menjelaskan kepada anak bahwa hanya karna mereka marah, bukan berarti mereka anak yang jahat. Setiap manusia bisa marah, dan tugas kita mengontrol marah kita agar tidak menyakiti orang lain ataupun merusak hal hal disekitar kita. misalnya memukul atau teriak teriak bisa menyakiti badan atau hati orang lain dan membuat orang lain takut.

Menyemangati 

Anak anak yang mengalami kemarahan meledak ledak setelahnya merasa diri mereka down , bukan menang. jadi terus menyemangati dengan menyebutkan sifat sifat baik mereka dan selalu mengisi hari hari mereka dengan qulity time dan koneksi membuat mereka merasa dihargai dan meningkatkan hubungan dengan keluarga.

 

Kunci terakhir adalah : Sabar dan sabar. karna masa masa ini akan sulit, dihinggapi berbagai judgment baik dari diri sendiri atau orang lain, disisipi perasaan gagal dan marah. tapi Insha Allah masa masa itu akan berganti dengan bergantinya usia mereka. menjadi anak anak yang mampu mengontrol amarahnya, menyelesaikan problem, dan mendiskusikan kemarahannya dengan orangtua. Amiiin..

 

source : http://www.huffingtonpost.ca/2016/03/02/anger-management-for-kids_n_9359438.html

diterjemahkan dan Diadaptasi sendiri 🙂

 

 

 

 

 

 

 

Kumpulan DIY 2015

Dibuang sayang, beberapa karya yang beberapa akan segera berakhir di tong sampah. tapi rasanya belum rela karna ini bagian dari cerita kami as a new Family, bagian dari cerita ketika menempati rumah pertama yang penuh kenangan, ketika adiknya naura muncul dst. dan Insha Allah akan terus menjadi memori that we did something by Playing and creating.  🙂  Continue reading

Jadi Orangtua diBerlin

Ga kerasa uda 5 tahun tinggal disini, perasaan baru kemarin mewek gara2 homesick. perasaan baru kemarin mau ke supermarket aja takuuuutnya setengah mati, haha takut kasirnya ngomong bahasa Jerman trus akunya ga ngerti. Perasaan baru kemarin punya ngurusin anak 1 aja repotnya, sekarang uda 2 berkeliaran dan bikin ribut.

Tinggal di negri orang, walau bagaimanapun indahnya mah tetap saja negri ‘orang’, kita ini ya orang asing, pendatang. apa rasanya jadi orang pendatang ? bukan Turis loh. rasanya aneh sendiri, ‘i am an alien, i am a legal alien in Berlin’

Orang Jerman itu, kesan pertama adalah ga ramah, dingin. mungkin perasaan saya aja kali ya, tapi ternyata ditempat kursus bahasa jerman dimana saya juga kumpul dan bertukar pikiran dengan orang orang dari berbagai negara lain, seperti vietnam, venezuela, Polandia, Libanon, dll. mereka semua sependapat kalau orang Jerman itu ya ga begitu ramah dan terbuka, bicara seperlunya, kalau negur tetangga paling cuman ‘Hallo’. ga kayak kita donk ya, sambil beli sayur ngobrolin toko mana yang lagi diskon pampers, ngobrolin resep sampe curhat suami dan anak, kapan kapan bikin arisan sekomplek, arisan ibu ibu sekolah, arisan, arisan sana sini.  *how i miss thaaattt*

Faktor bahasa tentu juga jadi penyebab, tapi kata guru saya mungkin faktor sejarah juga bisa berpengaruh karna Berlin pernah terbagi 2, Berlin Barat – Timur. jadi banyak dari mereka tidak memiliki kontak dan kehidupan sosial yang normal. Tentunya ga semua orang berlin begitu ya, banyak juga ketemu orang jerman yang ramah dan sabar dengerin bahasa Jerman kita yang tergopoh gopoh.

Pengen berbagi sekaligus mengenang awal awal jadi orangtua di Berlin, bagaimana sistem Sosialnya yang dibilang sistem yang paling istimewa di Eropa.

Dulu ga kebayang punya anak di negri orang sendirian, ga ada yang bantuin atau nemenin. tapi ternyata sekarang anak ke-2 pun lahir disini tanpa bantuan keluarga, cuman mamah yang datang ketika anak pertama sudah lahir.
1. Bidan
Di Jerman, Bidan memiliki peran penting, setiap ibu yang akan melahirkan disarankan oleh dokter untuk memiliki bidan dirumah, kita yang hubungi bidan sesuai kualifikasinya, ada yang bisa bahasa inggris atau bahasa lain, ada yang bisa pijit bayi dst. kalau Ok, nanti mereka datang kerumah, bbrp minggu sebelum lahiran sampai beberapa minggu setelah lahiran, terserah kapan kita perlunya. semuanya ditanggung oleh asuransi. Bidannya ngapain ? mulai dari cek kehamilan , sampai keluhan2 pasca melahirkan dan tentunya cek kondisi bayi secara umum.

2. Senam Pasca melahirkan, Biasanya dokter dan bidan juga akan menyarankan untuk ikutan senam pemulihan, atau kalau disini namanya ‘Rückbildung‘. biaya senamnya juga ditanggung asuransi pemerintah sampai batas anak berumur 9bulan. Senam itu penting buat mengembalikan kesehatan ibu pasca melahirkan. 🙂 jadi ga ada ceritanya disini ibu ibu sampai 40hari ga boleh keluar. sempet heran juga sih, ibu ibu disini pada jagoan amat, baru lahiran beberapa hari udah jalan jalan dorong stroller.

3. Vitamin D untuk bayi
Anak anak yang baru lahir walau di musim panas, diberikan vitamin D-kalsium selama 2     tahun karna kekhawatiran kekurangan vit D ( mungkin karna disini cahaya matahari tidak bersinar sepanjang tahun )

4. Udara Segar
Orang orang di Jerman sangat percaya anak anak perlu udara segar, makanya walau di cuaca dingin sekalipun mereka tetap mengajak anak bayi keluar, juga buat ibu ibu yang baru melahirkan di RS, disuruh perawat untuk keluar membawa anaknya untuk menghirup udara segar, tentunya dengan pakaian yang berlapis lapis dan jaket terusan jika pada musim dingin. buat orang orang Eropa, mereka punya motto ‘ tidak ada cuaca yang buruk, yang ada hanyalah pakaian yang tidak benar

5. Baju Bayi.
Anak bayi yang baru lahir tidak boleh tidur dengan memakai bantal dan selimut ataupun boneka2an, hal ini karna ditakutkan bayi nya ‘tanpa sengaja’ bisa ketutupan bantal atau selimut ketika tidur. kalau di Indonesia, biasanya memakai kain bedong, kalau di Jerman memakai kantung tidur atau schlafsack seperti ini :

 

6. Tunjangan Ibu. Tiap ibu yang melahirkan (walau tidak bekerja) akan mendapatkan uang tiap bulannya dari pemerintah sebesar 300€ selama 1tahun.  Orangtua yang bekerja bisa mengambil cuti membesarkan anak selama 3 tahun namun tidak bisa sekaligus,  maximal 1 tahun. 😀 bisa juga dikombinasi dengan suami, jadi banyak suami istri yang mengambil cuti ‘mengasuh anak’ selama 6 bulan -1tahun, selama cuti itu mereka digaji 65% dari gaji biasanya yang mereka terima. (maximal €1.800 /bln) . Oya belum lagi ada bantuan dari organisasi organisasi sosial untuk persiapan kelahiran, misalnya dari organisasi gereja atau organisasi sosial lain. siapa aja bisa daftar, setelah diteliti tabungan dan pemasukannya serta pengeluaran tetap, kalau memenuhi syarat maka bisa mendapat tunjangan sekitar 600€. ketika para ibu di Amerika masih berjuang menuntut hak cuti melahirkan, di jerman ibu ibu yang akan melahirkan mendapatkan cuti 6minggu sebelum dan 8 minggu setelah melahirkan plus cuti membesarkan anak tadi.

7. Tunjanan Anak. 
Setiap anak yang lahir di Jerman memiliki tunjangan sebesar 182€/bulan sampai usia 18tahun, Kalau punya anak ke-2 dan seterusnya, tapi salah satu masih berusia dibawah 4tahun, maka si anak juga bisa mendapatkan tambahan ‘Siblings Bonus’ , sebanyak 75€/bulan sampai salah satu anak mencapai usia 6th.

8. Makanan Bayi 

Biasanya awal punya anak, pengen segala galanya bikin sendiri, buatan sendiri, terkontrol, dan bergizi. tapi kalau lagi ga punya waktu  atau buat dibawa jalan? makanan bayi dari mulai usia 4bulan-1tahun disediakan dalam bentuk toples seperti ini. praktis dan bervariasi. mulai dari sayuran aja, buah-buahan aja sampai menu dengan daging atau ikan. semua bahannya terkontrol, tanpa pengawet atau bahan pewarna.

Bildergebnis für HIpp baby nahrung in germany

9.  TK dan Sekolah

Di Jerman disebut KITA (kindertagestatte) , istilah lain sama seperti tempat penitipan anak tapi dengan sistem pendidikan. anak anak mulai usia bayi sampai usia pre-school masuk dalam kategori ‘Krippe’ atau Daycare.  Anak anak yang orangtuanya bekerja, bisa memiliki  hak di KITA sampai sore ( 9 jam), kalau salah satunya tidak bekerja atau studi maka hanya sampai 6 jam, tapi jika anaknya sudah diatas 3tahun, maka biasanya sampai soreguru gurunya harus menempuh pendidikan pedagogi sebagai pengasuh KITA. Satu grup biasanya dipegang oleh 1 guru dan 1 orang asisten guru. Kegiatan di KITA ini lebih banyak bermain tentunya, tapi dengan rutinitas seperti :

9.00 – 9.30 : Sarapan bersama.

9.30 – 10.00 : istirahat dan bermain bebas.

10.00-10.15  : Circle Time ( bernyanyi sambil memperkenalkan berbagai kosakata, cuaca, nama nama teman, dst)

10.15 – 11.00 : bermain art /craft

11. 00- 11.30 : bermain bebas.

11.30 – 12-00 : Makan siang

Sisanya bermain dan bermain. setiap 1x seminggu, mereka mendatangkan guru dari luar untuk mengajarkan musik, teater, dsb dan 2 kali setaun jalan jalan piknik. beberapa kali seminggu juga mereka mengajak main diluar, ke Hutan kecil, taman kecil atau sekedar melihat lihat kota. ini dilakukan walaupun pada cuaca dingin. Pada akhir tahun TK, orangtua akan diberikan buku perkembangan anak sesuai dengan standard penilaian yang ada . Misalnya : practical skilss : sudah bisa mengikat simpul tali,sikat gigi sendiri, pakai baju sendiri dst. dan kemampuan kognitif : sudah bisa menghitung sampai 20 atau 50, menulis simbol simbol, dst.

Anak anak yang berusia 6tahun akan masuk ke kelompok vorschule, dimana di grup ini akan lebih distimulasi kemampuannya untuk persiapan SD. usia masuk SD rata rata di Berlin adalah 6th.

10. Tingkat kelahiran bayi
udah segitu giatnya Mrs Merkel menginvestasikan anggarannya untuk keluarga, tetap saja tingkat kelahiran di Jerman adalah yang terendah loh di seluruh dunia setelah Jepang. *ga nyangka*. menurut salah satu website :  tingkat kelahiran anak di Jerman hanya sekitar 1.36% per tiap wanita. Banyak wanita yang baru memiliki anak pada akhir usia 30 an atau awal usia 40 thn. Alasannya, karna belum selesai studi, ingin bekerja, sulit menemukan pasangan yang tetap dst. Ini menjadi kekhawatiran buat pemerintah Jerman, karna tentunya akan menghambat ekonomi mereka nantinya. kondisi demografis Jerman dimana Belajar dan Bekerja adalah  prioritas mereka, membuat wanita di Jerman enggan untuk memiliki anak, tipical sistem sosial di Barat kayaknya ya.

Tapi walau dengan segala macam keasingannya, keuntungan jadi orangtua di Luar Negri itu adalah bisa membesarkan anak anak secara mandiri. dalam artian lain, jadi orangtua di Jerman membuat saya ‘trial and error’, jadi orangtua koq coba coba? jadi orangtua pasti coba coba, kalau ga berhasil, coba cara lain, dan itu bisa berhasil karna disini ga ada campur tangan orang lain atau suara suara sumbang yang menjatuhkan. setiap orang yang ngurus urusan pribadinya masing masing 🙂 itu yang buat kita jadi belajar, jadi tambah kuat. Jadi orangtua disini melelahkan lahir batin tapi membuat mereka jadi tambah maju. Disini ga jarang liat, ibu-ibu yang punya anak 2,3,4 ada yang bekerja paruh waktu, tapi aktif di pengajian,masak buat perkumpulan, dan sekaligus mengurus anak anak. keuntungan lainnya adalah, jadi ibu di Jerman memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri seluas luasnya. jadi ibu rumah tangga ga berarti harus diam dirumah aja. Disini ada ‘akademi orangtua’, kursus bahasa Jerman untuk Orangtua, kursus komputer basic untuk orangtua, bisa kuliah sampai umur berapapun, bisa dibantu untuk dicarikan pekerjaan sesuai kualifikasi. Dan kalaupun dapat pekerjaan mini, Ga ada yang gengsi jadi pekerja bersih bersih, bersih bersih kantor, ga ada yang gengsi kerja jadi kasir, jadi pelayan, dsb.

Jadi orangtua diJerman membuat saya menikmati jalan kaki 600 meter sambil nenteng anak dan dorong stroller. jadi orangtua di Jerman itu bisa ngajak anak main outdoor  dengan puas di dekat rumah tanpa harus bayar. Jadi orangtua di Jerman itu membuat kita belajar membela diri ketika diremehkan di negri orang. 🙂