Mengintip sekolah Montessori

Sebenarnya kami tidak terlalu buru buru mencari sekolah SD untuk naura, Karna naura masih punya 1-2th di TK, awalnya kami juga pikir sekolah SD disini standarnya pasti sama bagus. tapi ternyata tidak semua kualitas sekolah negri itu bagus. sistem sekolah di Jerman bisa  berbeda beda tergantung propinsi karna masing masing punya otoritas  sendiri,.misalnya di Berlin usia wajib sekolah antara 5-6th, berbeda dengan di hamburg yang antara 6-7th.
Continue reading

Advertisements

Family Adventure (Austria&Bavaria)

Liburan kali ini kita menjelajah ke beberapa kota dalam 1 minggu , Salzburg, Hallstatt, München dan Füssen. Salzburg adalah kota no.4 terbesar di Austria yang berbatasan dengan Jerman dikelilingi dengan pemandangan pegunungan alpen. salzburg memiliki daya tarik pariwisata karna kecantikan arkitektur kotanya yang sangat terjaga sehingga termasuk dalam ‘UNESCO world heritage site‘. Selain itu salzburg juga merupakan kota kelahiran Mozart dan lokasi pembuatan film Musikal yang sangat legendaris di era 65-an yang berjudl  ‘Sound of Music‘. Tidak  heran jika tur yang ditawarkan juga berupa tur ke lokasi lokasi persis yang ada di Film tersebut, ada Bus khusus yang menawarkan tur beberapa tempat scene dari film tersebut,diantaranya ke Mirabelle Garten, taman luas nan indah di Tengah kota Salzburg, Hellbrun, St Gilgen, Wolfgangsee. Karna kita hanya singgah 1 hari di Salzburg dan kendaraan umum di salzburg cukup mudah, maka kita ambil Bis dari Central Station, langsung turun di depan Mirabelle Garten.  Taman ini adalah salah satu central park pertama yang wajib dikunjungi para Wisatawan. 

 

Karna waktu itu cuaca kurang mendukung, Langit mendung dan hujan deras, akhirnya perjalanan ke Taman Hellbrun yang sudah ditempuh cukup jauh harus dilewati sebentar saja, padahal katanya kalau summer ada permainan air yang seru buat anak anak. Untuk jajan makanan di salzburg tidak beda jauh dengan di Berlin, Donner/roti gulung Turki berkisar antara €3.5 dan €4 , kecuali kalo beli menu piringan lebih mahal antara 8-10 euro. Restoran halal cukup banyak ditemui di sekitar daerah central station.

Hari ke-2 paginya kami jalan jalan ke Salzburg Altstadt (Oldtown) , yang merupakan daerah kota tua yang menyimpan banyak sejarah. Di situ kita bisa menelusuri Salzburg Residenz yang dulunya merupakan kediaman Archbishop dari tahun 1500 an, di daerah ini , banyak yang bisa dinikmati seperti street performance yang dengan berbagai macam music  instrumen, paduan suara , manusia yang menyamar sebagai patung, tur dengan kereta kuda,  toko toko antik, Kincir air. pemakaman tua. dari daerah ini terdapat juga castle diatas bukit yang bisa dicapai dengan menggunakan kendaraan ‘Funicular‘ atau di salzburg disebut juga Festungbahn .yaitu sebuah kereta yang menaiki sampai ke atas bukit. dari atas bukit kita bisa menelusuri castle Hohencastle salzburg dengan berbagai sejarahnya dan tentunya bisa foto2 pemandangan kota salzburg dibawahnya yang sangat indah. Terdapat pula teater boneka tali ( marionett) dengan tema-tema populer salah satunya film ‘Sound of Music’. tapi kalau masuk ke dalam pamerannya saja (tanpa bayar) kita bisa menikmati berbagai pameran boneka tali di dalam kaca dan bahkan ada yang bisa dicoba juga.

 

Dari Salzburg Altstadt kita teruskan perjalanan ke kota lain di Austria bagian atas yaitu Hallstat, kota kecil yang cantik dan semakin terkenal terutama bagi turis turis dari Jepang, sampai sampai mereka membuat tiruan kota ini yang khas dengan rumah desa bertingkat tingkat di atas bukit. Hallstatt berjarak sekitar 2-3 jam dari Salzburg menggunakan Bis dan Kereta. sangat mudah ternyata menggunakan kendaraan umum di Austria ini, kami hanya perlu menggunakan Bis dari Central Station sampai ke Bad-Ischl (perjalanan sekitar 1 jam) di perjalanan Bis pun tidak akan bosan, karna disuguhi dengan pemandangan bukit bukit Hijau dengan gunung dan rumah rumah kecil dan peternakannya persis seperti di film film.  sampai di bad-Ischl , turun dan ambil kereta ke Hallstatt. Hallstatt terkenal dengan rumah rumah cantiknya yang berjejer di pinggir gunung dan dikelilingi oleh laut. Karna kita tidak mendapat penginapan di Hallstatt , kami menginap di daerah sebrang danaunya yang hanya berjarak 20 menit dari Hallstatt dengan menggunakan boat. Di Obertraun ini terdapat banyak perumahan atau resort dikelilingi dengan pemandangan gunung yang sangat Indah, MashaAllah. Hallstatt merupakan daerah yang disebut ‘salzkammergut‘ yaitu salah satu daerah penghasil garam tertua di dunia. Tiap tahunnya Hallstatt menghasilkan 300.000 ton garam ( sumber  : Guidetour Salzwelten).

Hari ke.2 kami menelusuri kampung Hallstatt dengan rumah rumah cantiknya yang berjejer dengan khas celtic. di situ banyak toko toko kecil yang menawarkan berbagai produk dari garam. terdapat juga Museum Hallstatt. yang paling menarik adalah Tur ke Saltwelten atau pertambangan Garam yang terletak 2km diatas gunung. Menggunakan funicular sampai ke atas bukit yang tingginya mencapai hingga 865m dari permukaan laut. Telinga pun sampai merasakan tekanan udara di ketinggian ini. Dari atas masih harus jalan kaki mendaki hingga 800m di jalanan yang masih berbatu dan bersalju. rasanya ga percaya kami harus membawa 2 anak yang rebutan stroller karna tidak kuat lagi naik ditambah dingginnya angin bersalju. walhasil berhasil naik dan akhirnya sampai juga di Saltwelten. Sampai di Salzwelten kita diharuskan menggunakan baju khusus seperti seorang penambang. Tur nya dipandu masuk ke gua pertambangan sambil dijelaskan bagaimana zaman dulu dari sekitar 200 jutaan lalu sudah ada penambang yang mencari garam/batu2an. Gua itu merupakan gua aktif yang dinding dan atas nya jika kita ambil masih mengandung garam butiran. tur ini sangat worth it karna dijamin tidak membosankan, seruu dan bisa untuk anak mulai umur 4th. Tur nya memadukan informasi dan teknologi media dalam menampilkan ilmu pengetahuan dan cerita cerita legenda, seperti misalnya pertunjukan laser yang menampilkan cerita cerita legenda dan Manusia hologram , keseruan lainnya adalah turun dengan perosotan kayu yang panjangnya sekitar 64 meter , dan tentunya keseruan petualangan sebagai penambang tentunya 🙂

IMG_3969

Keluar lorong gua pertambangan menggunakan kereta penambang 

Setelah dari Salzwelten, dan Menuruni  jalan dari atas ketinggian 800an dari permukaan laut, pastinya kita tidak mau melewatkan untuk mengabadikan pemandangan yang spektakuler ini walau berarti dengan tangan super gemeteran ( dua duanya takut ketinggian ) .

Dari Hallstatt kita kembali ke Salzburg menuju München. dari München hari ke.2 kita berangkat ke Füssen, disitu terdapat Castle yang sangat terkenal di Jerman bagian Bawah yaitu sejarah Bavaria , letaknya diatas bukit tinggi yang sangat Indah yaitu Castle Neuschweinstein yang katanyaaa merupakan inspirasi dari Istana yang dipakai Disney di cerita cerita Princessnya, dari München ke Füssen harus menempuh perjalanan kereta selama 3 jam, lalu naik Bis lagi ke daerah Castle. disitu ternyata ngantri nya cukup panjang dan waktu itu Bus ke atas castle sedang tidak beroperasi karna licin akibat salju, jadi hanya menyediakan kereta kuda yang artinya ngantri nya lebih panjang lagi. Akhirnya kami hanya sampai ke castle Hohenschwangau yang juga terletak tidak jauh dari Neuschweinstein . Castle ini justru merupakan Castle pertama yang dimiliki Raja bavaria II.  Castle Neuschweinstein merupakan istana ke-2 setelah Hohenschwangau yang dibangun oleh anak dari Raja Bavaria II, Maximilian. Tapi karna pesona keindahan dari si Neuschweinstein yang lebih besar, lebih tinggi diatas gunung dan gara gara si Disney, maka banyak pengunjung lebih memilih mengunjungi istana ini. Bagi kita yang beranak 2  pitik begini cukup puas melihat istana ayah ibu nya saja. Sayangnya tidak boleh ada foto di dalam Istana ini. dari Füssen, hari ke 6 dan 7  , kami sempatkan melihat kota München yang masih berawan , jadi hanya mengunjungi pusat kota nya saja yaitu Marienplatz, disitu terdapat Glockenspiel yaitu jam di depan geraja yang memiliki f 43 bel dan 32 Figur yang bisa berputar dan memiliki cerita .aah tapi mernurutku sih bagusan yang di Plaza senayan itu :). tentunya Jam itu memiliki sejarah sampai ke tahun 1908.  dengan sisa tenaga dan cuaca yang masih berangin, Cukuplah Marienplatz mewakili sightseeing kami di kota München.

Perjalanan yang cukup hektik, berpindah pindah tempat selama 1 minggu, letik dan khawatir namun Hamdulillah bisa dilalui. harapannya bisa mengajarkan anak anak kami untuk bersabar dan menghargai pengalaman. dari ngejer bus, nunggu bis dan kereta, tahan cuaca, serta bertemu orang orang baru dengan kultur yang baru.

 

 

IMG_3977

Danau Alpsee di Füssen

 

 

Review buku Positive Parenting (Rebecca eanes)

Setelah beberapa bulan megang buku ini, Hamdulillaah bisa selesai juga buku yang berseliweran di medsos Positive Parenting luar sana. Mungkin kita sering membaca meme atau quote2 nya Rebecca eanes tentang positive parenting yang menyentuh hati lewat facebook atau broadcast.  Buku sebelumnya yaitu ‘The newbies guide to positive parenting” first dan second edition juga menjadi bestseller. Jadi buku ‘Positive Parenting , An essential Guide‘ ini sepertinya sih berisi rangkuman semua point point dalam menerapkan Positive Parenting. Dalam buku ini, terdapat testimonial dari Dr Shefali Tsabary (yang suka muncul di Oprah), Andrea Nair , dan lain lain, serta endorsement dari Dr Laura Markham. (Aha parenting).

positive parenting cover

Filosofi positive parenting menekankan pada Koneksi, Respekt, bahasa yang efektif, dan tanpa Hukuman atau Rewards. Buku ini banyak menekankan pentingnya beralih dari persepsi konvensional tentang memahami anak sebagai manusia yang sering manipulatif, tidak mau menurut, atau sering membantah. tapi justru sebaliknya, anak2 adalah fitrah yang senang kepada kebaikan, asal mereka dibekali dengan perangkat yang benar.

Buku ini terbagi menjadi beberapa bab berupa prinsip prinsip Positive Parenting, Self work, komunikasi efektif, membangun kepercayaan, mendefinisikan kultur atau nilai dalam keluarga, melihat anak dengan pandangan baru, membesarkan anak dengan emosi yang sehat, menukar hukuman dengan solusi, dan bagaimana menggunakan Proactive Parenting.

Di beberapa bab selain membahas tentang tema tersebut, diberikan juga bagian ‘put into practice’, jadi banyak diberikan langkah langkah yang konkrit bagaimana menangani anak yang sedang konflik misalnya. atau bagaimana mendefinisikan kultur keluarga. Tapi sebelum itu, yang menurut saya sangat bagus dari buku ini adalah karna Di Bab awal penulis menempatkan self work atau tugas kita kepada diri sendiri dahulu. Seperti langkah-langkah mereview cerita kehidupan kita, bersyukur atas segala kondisi, dan banyak afirmasi positif bahwa kita memiliki kekuatan untuk berubah dan bertambah kemampuan.  jadi awalnya tu kaya baca buku self-motivating. 🙂 lalu ada tentang bagaimana merubah pola pikir yang negatif, misalnya di awal hari sudah mengeluh : anak saya nakal, anak saya sangat susah, dst ( emak emak semua relate ini pasti yaa…) bisa dilatih dengan corrective thingking, self fulfilling prophecy itu sangat penting. mantra positifff banyak banyak dilatih. sampai otak kita terbiasa untuk mengkoreksi.

Selain self-work, hubungan yang sehat dengan partner atau dalam hal ini suami, juga dijelaskan dengan sangat lengkap. bener bener kayak lagi baca buku konseling. disertai dengan pertanyaan pertanyaan reflektif seperti : Partner saya adalah orangtua yang baik karna dia….. , atau pertanyaan seperti : tujuan saya membesarkan anak adalah…. , sampai bagaimana membangun emosi diri yang sehat, fokus pada yang positif pada diri partner, berargumen yang konstruktif, memperlakukan satu sama lain dengan respekt, memberikan ruang bagi masing masing, dan masih banyak lagi. di bagian akhir dari beberapa tema ada  bagian
Put it into practice’ berisi rangkuman point point nya.

Positive Parenting tidak lain halnya dengan mendisiplinkan diri sendiri, bersikap sabar dan baik apapun kondisinya. bukan berarti menjadi orangtua sempurna atau permissif, disinipun penulis menuliskan sendiri bahwa dia mengalami masa masa yang menyedihkan sebelumnya, Penulis juga menjelaskan cara menerapkan aturan dan langkah langkahnya ketika anak tidak mengikuti aturan. Banyak tercerahkan bahwa ketika kita mengeluh bahwa anak anak tidak mendengar alias tidak nurut, kita seringkali ngomel, teriak atau ceramah. Menurut Rebecca, menyuruh itu hanya dilakukan sekali, dengan menatap anak dan dengan kalimat yang singkat padat jelas. kalau anak tidak melakukan juga maka langsung diarahkan atau dibantu untuk melakukan tugasnya ,jadi ga perlu 2x, atau 5x, begitu menurut Rebecca.

Bab lain yang sangat mencerahkan adalah bagaimana mendefinisikan kultur dan nilai keluarga. yaitu ada bagian membuat Family Blueprint, seriously ? iyaa emang serius deh ini penulisnya, jadi bagaimana membuat kerangka keluarga. Blueprint adalah outline yang dikerjakan bersama sama seluruh anggota keluarga yang terdiri dari : kepercayaan, nilai, moral, cita cita, dan tujuan. Misalnya nih si penulis dan keluarganya sangat memperhatikan tentang lingkungan, jadi nilai yang ditulis adalah : ‘ kita perduli dengan Bumi, kita akan mendaur ulang, menghemat energi dan air, serta memungut sampai di komunitas kita setiap bulannya’.  selain itu yang membuat saya terinspirasi asalah  ketika dia membuat contoh ritual keluarga seperti setiap anggota keluarga berkumpul dan masing masing bercerita tentang sebuah tema (yang sudah ditentukan) selama 3 menit tanpa diinterupsi, hal ini mengajarkan anak anak dan kita tentunya untuk mendengarkan dengan seksama. huhu belajar mendengarkan sama pentingnya dengan belajar berbicara, bahkan mgkn lebih penting.

Selain itu, layout penulisannya juga tidak membuat bosan, karna di tiap Bab terdapat Quote , misalnya  : Power strugggles often occur because children feel they have little to no control over their daily lives. , we can choose to be loving even if we aren’t feeling loved, if we want to raise positive thinkers, we have to learn to be positive thinkers.  

Tema komunikasi efektif dibagi menurut kelompok umur anak dan diurutkan menjadi langkah langkah. Bahasa nya sederhana penuh cinta, pengertian dan misi kedepan. mau nangiiiss lah bacanya, kenapa ga dari dulu baca buku ini. Di dalam bukunya ini, penulis juga merekomendasikan pendapat para ahli seperti Gordon Neufeld, Alfie Kohn dan Laura Markham. Buku ini a must-read buat keluarga yang ingin membangun keluarga harmonis,  dan penuh bonding yang kuat.

Satu yang penting, buku ini bukan mengharapkan kita menjadi orangtua sempurna, dan penulis juga menyuruh kita mendengarkan kata hati, bahwa orangtua lah yang paling mengerti anak anaknya.

Tulisan emas Rebecca eanes yang paling akhir dan paling membuat saya optimis,  rasanya ingin memeluk masa sekarang, dan selalu berusaha tegar dan kuat adalah :

The tough phases do end, and with the end comes relief, but also a bit of heartache when you raelize they need you a little less than before. Time cannot be slowed, Hard phases cannot be rushed and good phases cannot be frozen. we must take it as it comes and do the best we can with the bad and savor as much as we can of the good, because there is no stopping it either way. that little boy or girl will grow up, and your role will be redefined many times over. that is both the beauty and the sadness of Parenthood’ 

Membaca buku ini seperti membaca buku 7 habits of highly effective people (walau belum tamat juga ), lebih dari sekedar membaca buku Parenting  seperti layaknya ditulis di banyak review bahwa buku ini lebih dari sekedar buku parenting tentang How-to’s, tapi lebih ke Panduan membangun Hubungan manusia yang sehat dan indah.

 

Selamat membaca 🙂

 

positive parenting cover

 

 

 

 

 

 

Hal kecil yang melekat

Waktu ku kecil , aku adalah anak yang paling penakut (sampe besar sih) , tapi penakutnya parah sampe kalah berani sama adik yang berani tidur di kamar sendirian di lantai atas yang gelap, masih ingat waktu ku kecil suka menyelinap ke kamar Abah Mama untuk tidur di tengah tengah mereka. Pengalaman kecil itu ternyata masih melekat bersama dengan hal hal kecil yang ada didalamnya.

Tidurku di kamar Abah selalu terganggu dengan suara berisik air, suara air itu bukan suara bocor tapi suara orang mengambil wudhu, lama kelamaan aku jadi terbiasa dan sadar kalau jam sekian akan ada suara air, walau  belum masuk waktu Subuh karna jam menunjukkan masih dini. Ku coba tidur kembali tapi beberapa saat kemudian terdengar lagi suara alunan dzikir yang cukup keras. irama Dzikir itu masih terngiang sampai sekarang ketika aku mengucapkannya di waktu menjelang waktu Subuh. ‘Ya Hayyu Ya Qoyyum , La ilaaha Illa Anta Subhanaka inni kuntu Mina Dzoolimin’  Dzikir menjelang waktu Subuh sehabis solat sunnah fajar. Tidak ingat umur berapa waktu itu, tapi seringkali waktu Abah Mama sholat , aku hanya duduk bersandar atau sekedar tidur tiduran di atas sajadah mereka, tidur tiduran atau bermain di atas sajadah ketika orang Sholat itu ternyata memang ada kenyamanannya sendiri 🙂

Setelah waktu sholat subuh, bacaan tidak berhenti sampai menjelang matahari terbit, semakin aku besar, aku dan adik pun ikut membaca sampai kami dikenalkan dengan wirid pagi-sore bernama wirdul lathief ( wirid kelembutan) berisi dzikir dzikir untuk memulai hari. Dulu, membaca wirid ya ikut saja dengan irama yang kadang cepat kadang lambat, lama kelamaan, somehow saya dan adik saya bisa hafal wirid itu tanpa sengaja.

Setelah Sholat Maghrib, biasanya kita akan selalu dipanggil duduk diatas dipan. bergantian aku dan adik. Kesaal dan malas tapi tak berani berkata ‘tidak’ waktu itu. Alhasil, masing masing kita belajar mengaji selama 30 menit, saking malas dan tidak sukanya, aku sengaja asal asalan baca AlQurannya. maksudnya supaya aba kesal dan akhirnya menyudahi saja, tapi nyatanya Abah malah tetap sabar mengkoreksi, mendengarkan. sampai 2 lembar.

Masih ada bacaan Ratib dan dzikir yang mengiasi kebersamaan kami sebagai keluarga yaitu setelah Maghrib , dengan alunan Dzikir yang irama kalimatnya khas dan indah, hingga kini sangat akrab di bibir dan telinga. Tidak terasa dulu yang hanya duduk duduk bersama diatas sajadah, kebiasaan membaca Dzikir dan doa begitu melekat pada diri kami hingga sekarang ketika kami besar, hal itu membawa kenangan dan cerita, moment bersama keluarga kami sering berada diatas sajadah setelah sholat dan berdzikir, berbincang bincang tentang segala hal .

Hubungan Ayah dan Anak perempuan itu bisa dibilang istimewa. Segalak galaknya seorang Ayah, beliau yang mengajarkan kami banyak hal, menceritakan kami kisah Nabi dan orang bijak, Hal hal kecil dulu yang tidak disangka bisa menjadi begitu melekat, seperti ucapannya ketika masa masa saya belajar untuk Ebtanas hingga larut malam, Abah memeriksa kamar dan melihat saya masih belajar, lalu berkata :’sudah tidur saja, uda cukup belajarnya, serahkan semua sama Allah’ .  Atau hari pertama nganter sekolah ketika masuk SMA , karna waktu itu sekolah hari pertama di sekolah baru ,perasaan takut, malu, gugup, tidak percaya diri sepertinya ditangkap oleh beliau. ketika masuk pagar sampai mau masuk ke gedung sekolah saya berbalik dan Abah masih disitu, berdiri di balik pagar, memastikan kalau saya bisa atau mau masuk sekolah dengan baik baik saja.

suapan nasi paling sedaap buatku dulu itu dari jari jari abah. entah gimana nasi banjir kecap dan sambel tempe tahu bisa begitu sedap, Mulai dari mengambil rapot paling sering, sampai usaha nya membangunkan kami sholat shubuh dengan berbagai cara. Semua itu tidak pernah sia sia.

mulai dari menggedor pintu, menyalakan TV dengan volume tinggi, sampai menyiram air lewat Jendela, dan setelah bangun masih dituntun doa bangun tidur sampai diantar ke kamar mandi, semua itu dilakukan terus menerus. bersabar Menunggu anak anaknya berkumpul untuk sholat berjamaah, walau ada yang pura pura tidak tahu atau berlama lama di kamar mandi.

Pelajaran pertama buat saya yang kini sudah menjadi orangtua, mengajarkan anak tidak ada kata lelah, tidak boleh malas, banyak kekurangan dari orangtua pasti. tapi semua itu ditutupi dengan doa dan harapan kepada Sang Maha Kuasa.

Pelajaran kedua, hal hal kecil seperti kebiasaan kebiasaan dirumah akan melekat dan berbekas walau sepertinya saat ini tidak terlihat.

Pelajaran ketiga, usaha orangtua kita dulu tanpa smartphone tanpa sosial media. fokus saja. walau ini sepertinya tidak bisa dihindari di masa kini, saya harus terus membetulkan fokus dan prioritas.

 

Abah, Terimakasih sudah berusaha sebaik yang kau mampu….
menafkahi, mengajari, mendidik dengan kebiasaan baik serta menceritakan hal hal menarik buat kami. 
Bekal baik yang kau beri akan kami teruskan untuk anak anak kami.

Semoga Allah SWT merahmati dan mengampuni Ayah Kami yang telah wafat dan menerangi kuburnya dengan cahaya yang tidak akan padam hingga hari Akhir.

Dan semoga Allah SWT membalas segala jasa jasa Ayah kami dalam mendidik kami untuk mengenalkan kepada Tuhan kami dengan balasan yang berlipat ganda dan semoga Allah SWT menutupi segala kekurangan dan kesalahan mereka. dan semoga Allah SWT selalu mengingatkan kami akan kebaikan kebaikan mereka melebihi segala kekurangan mereka. 

 

Tulisan ini sebagai kenangan dan Rasa Syukur kami for Our beloved father ,
wafat 4 Syawwal 1438 / 28 Juni 2017

*Alfatihah….

 

Aturan dan Kompromi ?

Baru baru ini, ketika saya jemput dari sekolahnya, Naura punya masalah sedikit dengan gurunya. Naura tidak mau menepati aturan bahwa sudah waktu nya pulang (karna dia sudah anak terakhir yang dijemput), dan gurunya sudah merapikan Pensil warna semua ke atas lemari dan melarang naura menyelesaikan gambarnya apapun juga alasannya. sebagai anak yang strong-willed, memang tidak mudah buat naura untuk menerima suatu aturan. disitu terlihat adu argumen antara naura dan guru, dia bilang ‘gak fair’, bla bla bla….

Alhasil sampai dirumah, saya dan suami ajak bicara ada apa sebenarnya. ketika ditanya soal itu, Naura cerita panjang lebar bahwa dia hanya ingin pake pensil warna kuning untuk menulis namanya di kertas. suatu hal yang menurut kami hanya memakan waktu beberapa detik dan tidak terlalu prinsipil. tapi perbedaan cara tentu terjadi di mana mana, di sekolah antara guru dan anak, antar orangtua, bahkan antar suami dan istri. Pelajaran buat kami sebagai orang tua untuk mengulang kembali bagaimana kami menerapkan aturan, dan tentunya juga bagi guru untuk lebih mengenali sifat dan kebiasaan tiap anak dan menggunakan alternatif solusi.

Aturan merupakan bagian penting dari anak, itu hal yang disepakati. kehidupan mereka penuh dengan segala aturan  mulai dari jam tidur, jam makan, apa yang boleh dan tidak boleh dimakan, apa yang boleh dimainkan apa yang tidak, sampai besar : jam berapa boleh nonton, berapa lama, apa yang boleh ditonton dst.

Tapi aturan apa saja yang perlu dipatuhi tanpa kompromi, dan aturan apa yang bisa diajak berkompromi ? Berkompromi dengan anak bukan berarti jadi orangtua yang lemah, atau permissive. seringkali kita dengar , ‘kalau diturutin sekali, mereka akan mengambil kesempatan seperti itu lagi‘. ya ya memang benar, aturan dibikin untuk dipatuhi bukan untuk didiskusikan. tapi di sisi lain, kita juga ingin membesarkan anak anak yang bisa bernegosiasi dengan lingkungan sekitarnya, bukan menjadi pribadi saklek tanpa menggunakan pertimbangan dan pengertian. kemampuan bernegosiasi dan berkompromi untuk menghasilkan win-win solution , bukan menjadi orang yang penurut no matter what!

Mau beralih ke positive-parenting ini banyak sekali kendalanya, mulai dari masalah internal diri kita sendiri seperti : memutus lingkaran parenting yang menggunakan hukuman, berlatih komunikasi yang efektif, sabar, dan empati. belum lagi ditambah lingkungan sosial seperti pandangan orang yang menganggap parenting seperti ini sebagai cara yang tidak efektif, lunak, permisif, dan ga punya otoritas.

Back to the topic, Soal aturan. Aturan apa aja dirumah yang menurut kita hal hal prinsipil? hal hal begini sebaiknya didiskusikan bareng suami dan kita nya juga menjalankan. misalnya :  Waktu Sholat, Waktu mengaji, waktu Tidur, tidak boleh menyakiti orang lain, tidak boleh berkata yang tidak baik dst. Setiap keluarga pastinya punya aturan dan prinsip masing masing ya.

Semakin lama, aturan pun berkembang sesuai kondisi. :   ga boleh pake baju ini ke sekolah, ga boleh pakai sepatu itu ke sekolah, ga boleh nonton ini dan itu, serta jam main diluar dibatasi.

Diantara sekian banyak aturan, kita jadi berfikir lagi pertauran apa yang prinsipil dan peraturan apa yang bisa didiskusikan dan dikompromikan?

seperti anak saya yang kedua, maunya pakai rook terus, rok nya harus yang mekarr mempesona bak Princess, karna punya rok begitu cuma 1 ya dipake lah tiap hari itu itu terus, sampe kotor juga dipake, memaksakan kehendaknya  juga jadi perlawanan yang sengit. akhirnya kita jadi memikirkan kembali, seberapa penting si aturan itu ? apakah menyalahi prinsip agama atau norma sosial ? :p rasa nya ga ada. biarlah sekali sekali anak juga merasakan bahwa mereka bisa memilih sendiri sesuai selera, itu juga melatih mereka untuk percaya diri. sampai di sekolah , saya bilang : ‘coba adiba tunjukin ke guru ,adiba pake baju apa‘, dengan girangnya ,dia langsung bangun tuk kasih tau ke gurunya, membuat hari nya di sekolah lebih bahagia, hanya gara gara rok! ,

di lain waktu, pilihannya bisa lebih ekstrim walau dibujuk bujuk tetap maunya begitu, baju daleman jadi baju , Sampai di sekolah, ga ada guru yang komentar malah saya aja yang mulai komentar ke guru, gurunya bilang : ya adiba kan mau jadi mode setter. 😀 . tapi lain waktu dirumah dia maksa pakai celana dalem diluar celana panjang, langsung saya wanti wanti : yang ini ga mungkin dipakai ke sekolaah yaaa…..wkwkw.

Naura harusnya sudah tidur jam 8.30 ,a rtinya sudah mati lampu. tapi dia maksa mau baca buku 1 lagi setelah dibacain 3 buku. kalau menurut aturan, ya harusnya uda selesai dan tidur, tapi kita memikirkan kembali, apa sekali sekali membacakan buku lebih akan merugikan dan menghancurkan aturan yang sudah ada? akan membuat dia jadi pemaksa? sekarang sekarang ini kalau melihat asiknya anak anak masih bermain, kita bisa sedikit melonggarkan waktu sampai 15 menit.

Toh di kebanyakan hari, kita terus pegang aturan baku nya.

Hal yang mirip juga terjadi kalau mereka skip makan malam, selalunya kita akan bilang ga ada lagi makan malam setelah ini, waktu tidur tidak boleh ada rengekan minta makan. tapiiii ada waktu ketika mereka merengeeeek menyayat hati bilang lapar, awalnya si teguh nope ga ada makan sama sekali., tapi di lain waktu, jadi menimbang nimbang apa ada cara lain agar mereka bisa mengerti ? akhirnya, saya memberikan makan dengan catatan ‘tidak boleh roti coklat’, dan sambil makan saya ajak bicaara kalau hal itu tidak bisa terjadi setiap hari, dan mreka harus perhatikan waktu makan. Hamdulillah kita tidak mengalami hal itu setiap hari.  ah kalau diinget inget kita yang uda gede gini aja juga suka bangun tengah malem ngemil mie instan kan ?

Untuk anak anak strong-willed : kompromi, win-win solution, memiliki otoritas  adalah hal yang penting buat mereka. mereka tidak mudah diperintah sana sini karna merasa integritas nya dipertanyakan, mereka merasa mereka juga punya pilihan dan otoritas.  🙂 hanya memang kita sebagai orangtua sulit menerima kalau anak tidak mau diperintah.

Konsekuensi yang efektif menurut Positive Parenting adalah Natural Consequence. yaitu konsekuensi yang berdasarkan pengertian dan sesuai umur. Misalnya kalau skip makan, mereka akan tau akan lapar. tapi tidak semua aturan ada konsekuensi natural nya kan? seperti kalau tidak menaruh jaket dan sepatu di tempatnya, mereka tidak merasa ada masalah. Menyuruh mereka langsung menaruh sepatu ditempatnya dan menggantung jaket di gantungan jadi suatu permintaan yang konstan.Akhirnya saya mulai mengurangi tekanan dengan sedikit ‘pengertian’, dan berkompromi dengan cara : ‘Naura masih ada tugas yang belum diselesaikan ya, ga enak lihatnya berantakan. mama tunggu sampai naura rapihkan sepatu dan jaket, baru mama bisa siapin snack atau nonton sore’. walau awalnya lamaa sekali sampai mereka mau menempatkan barang2nya ditempatnya, tapi sekarang sudah mulai terbiasa. Dibanding jika memaksakan saat itu juga dilaksanakan, hasilnya bisa dipastikan teriakan dan berontak. Suatu hari naura meninggalkan sepatu dan jaketnya sambil buru buru ke kemar mandi, lalu dia bilang : ‘mama, gapapa ya aku belum taro jaket dan sepatunya, karna aku kebelet pipis’..  🙂

Di hari ketika ia memiliki sedikit perbedaan dengan gurunya itu, dia menjelaskan suatu yang tidak pernah kita fikirkan sebelumnya, dia bilang bahwa aturan itu seperti ‘suatu Garis’. di ujung garis yang satu yaitu ‘sangat tidak boleh‘, dan ujung satunya ‘sangat boleh‘. menurut pengertian naura, selama masih dalam garis berarti boleh. dan batasan garis itu di menurutnya dibatasi oleh batasan : ‘tidak menyakiti orang lain‘ dan ‘tidak merusak barang‘. hmm…penjelasan naura ini membuat kita berfikir terus tentang menerapkan aturan, karna dia sering bertanya : ‘kenapa sih ga boleh terus, itu kan ga nyakitin orang, ga ngerusak barang dst ‘.  Pertanyaan yang terus membuat kita berfikir dan mencari Solusi dalam menerapkan aturan yang efektif, bukan cuma aturan kaku yang membuat anak harus patuh ‘no matter what’, karna anak tidak suka diperintah, mereka lebih suka diajak, diberikan pilihan.  Mengancam juga cara yang pernah kita ambil dan hasilnya? mereka balik mengancam. they are great imitators. 😦

Akhirnya saya lebih suka menggunakan jam ( jarum menit ) atau timer, Ayahnya sering menggunakan kertas dan ditulis/digambar perjanjiannya, dan perrjanjian itu harus disepakati ( ditandai dengan bersalaman). Dengan cara ini, mereka belajar menepati janji mereka sendiri dan menerima konsekuensi.

Walau terus terang, masih mengevaluasi cara cara menerapkan aturan dan konsekuensi, tapi berkompromi dengan Naura adalah suatu hal yang kita lihat sebagai contoh bagi Naura untuk berkompromi dengan adiknya atau teman temannya. sehingga bisa menjadi pribadi yang pengertian , dan mempertimbangkan situasi dan kondisi.

Orang bilang, parenting itu seperti berseni. Berkompromi salah satunya, kapan bisa berkompromi, aturan apa yang bisa dikompromikan, seberapa longgar, serta bagaimana kondisi anak.

Berikut ini Langkah-langkah untuk membuat aturan (aha parenting)  :

  1. Menerapkan batasan yang benar benar perlu ( bukan soal baju garis garis dibanding baju polkadot )
  2.  Menentukan aturan mana yang fix, mana yg negotiable.
  3. membuat jadwal rutinitas yang dilakukan setiap hari : seperti jam tidur, jam sikat gigi, jam bangun tidur (waktu antara jam sekian jam sekian )
  4. memberikan pilihan jika memungkinkan. : ‘mau makan pake ayam, atau telur ? ‘
  5. Jika memungkinkan , berikan waktu hingga ia siap.  ooh ini contoh yang menaruh jaket tadi, anak anak tidak suka diburu buru. selalu sediakan extra time. dirumah kami, hal itu kadang berarti bermain sandiwara sebelum pergi kesekolah.
  6. Berikan kesempatan menjadi ‘in-charge’ : misalnya di weekend, mereka bisa pilih mau makan di resto mana.
  7. Its Ok ketika mereka menangis atau Tantrum : kadang mereka tidak mau mengikuti aturan atau nurut, karna ada hal hal yang tidak bisa kita tebak. mungkin bukan hanya lapar, atau letih. tapi pengalaman di sekolah yang mereka tidak bisa sampaikan seperti : penolakan dari teman, kesepian, merasa tidak mampu mengerjakan sesuatu, dsb.- hal itu bisa menyebabkan mood mereka jadi buruk dan menolak melakukan apapun yang kita minta.
  8. Gunakan disiplin yang sesuai umur : bukan timeouts! tapi pengalihan, cerita dan pengertian aturan yang mudah dimengerti anak.
  9. tidak baper, alias tidak mengambil hati apa yang diperbuat anak. duh seringnya ini mah susah, kita selalu menganggap mereka tidak sopan, tidak menghormati orang lain dst.
  10. Hindari ‘Power Struggle‘ : Kita tidak perlu ikut berargumen atau membuktikan bahwa kita benar ( which is i know , hard ) , Anak anak juga sedang mencoba menguji kemampuan ‘assertive’ mereka, dengan kekuatannya. menurut artikel di website ini, Tantrum adalah hasil karna anak anak merasa tidak berdaya. anak anak yang merasa memiliki kontrol di beberapa hal di kehidupannya, lebih sedikit mengalami Tantrum.

 

 

s

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dongeng Bruder Grimm

Cinderella, Snowwhite, Princess and the frog , Rapunzel, Red riding hood, Hansel dan Gretel bukanlah berasal dari Hollywood atau Waltdisney.  Jauh sebelum dongeng dongeng ini populer dibuku cerita anak atau dihidupkan melalui animasi, Pada tahuh 1800-an, dongeng ini sudah menjadi dongeng turun temurun di  Eropa. Yang menulisnya adalah 2 orang bersaudara asal Jerman yaitu : Jacob Grimm dan Wilhelm Grimm, yang akhirnya dikenal dengan The Bruder Grimm ( The Brothers Grimm) . Namun belakangan diketahui bahwa The Borthers Grimm hanya menggubah cerita dongeng yang sudah ada dari turun temurun, dengan memberikan sentuhan bahasa Jerman yang tinggi (hochdeustch), dari situlah mereka pun akhirnya menjadi dosen Germanistik di Göttingen.

The Brothers Grimm besar di Hanau, sebuah kota di belahan selatan Jerman. Setelah ayahnya meninggal, mereka kuliah di Kassel di Jurusan Hukum, namun pada masa studinya ini, mereka tertarik dengan literatur, khususnya dengan aliran Romantik seperti Goethe. Pada saat itu, trend cerita dongeng adalah dari Scotland dan England, namun The Bruder Grimms melebarkan ke area Skandinavia, Finland, sampai ke Serbia.

Pada awal 1812 volume pertama untuk edisi pertama  Grimm diterbitkan. Kumpulan ini terdiri dari 86 cerita. Namun edisi pertama ini banyak dikritik karna tidak layak bagi anak anak. Misalnya saja dalam cerita Cinderella, saudara tiri Cinderella diceritakan memotong jari kakinya agar muat di Sepatu kaca, lalu Rapunzel Hamil akibat perbuatannya dengan si Pangeran. dan banyak lagi cerita yang mengandung kekerasan dan sex. untungnya cerita cerita itu telah direvisi beberapa kali sampai mengalami beberapa versi. total cerita yang dihasilkan dari edisi  pertama hingga edisi ke-7, sampai  211 cerita .

Pada tahun 1825, mereka menerbitkan ‘Kleine aufgabe’  atau Small edition berisi 50 cerita dongeng yang dibuat untuk pembaca anak anak. edisi ini  mengalami 10 kali revisi antara tahun 1825-1858 .

20161130_133720

 

 

 

 

 

 

Awalnya saya juga merasa aneh ya, cerita cerita dongeng barat ini kenapa sering sekali menyeramkan buat anak anak, ada serigala makan orang atau kambing (seperti Red Riding Hood, serigala dan 7 anak domba ) dan sering

20161125_171645

Buku The Bruder Grimm’ disalahsatu perpustakaan anak

menampilkan sosok nenek sihir 🙂 , Tapi begitulah ciri ciri dongeng Bruder Grimm, dan begitulah tipical dongeng rakyat di eropa . Orang dewasa seperti kita bertugas menerangkan maksud dari cerita yang dibacakan dan jangan sampai mengeneralisasi semua ibu tiri itu jahat atau srigala itu makan orang 🙂 Anak anak saya sih sering sekali main sandiwara dari cerita ‘serigala dan 7 anak domba’, seringkali minta abah mamanya jadi serigala sambil teriak seru atau ketawa geli kalo uda kena tangkep. heheh… buku buku seperti ini biasa dibacakan di TK dan di Sekolah sekolah di Jerman.  buku buku Grimms juga dijadikan buku rujukan linguistik untuk bidang studi Germanistik.

 

Selamat Mendongeng, .. 🙂